
Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam dengan dua asas pokok, yaitu aqidah dan syariat. Semua pemeluk Islam wajib berlandaskan kepada dua asas itu dalam menjalankan keislamannya.
Pada permasalahan akidah, umat Islam dihadapkan kepada ragam pemahaman teologi sehingga diperlukan klaim identitas sebagai penganut suatu mazhab di dalam ranah tersebut.
Keragaman mazhab teologi ini mungkin saja dapat dipahami bukan sebagai perpecahan umat Islam secara keseluruhan, tetapi hanya merupakan perbedaan dalam pemahaman teologi yang sudah menuangkan perbagai perdebatan dan seharusnya menjadi circle (pusaran) keilmuan yang memperkaya khazanah pengetahuan terkait kekritisan terhadap Tuhan yang diimani itu.
Terkait kemazhaban dalam teologi tersebut, Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam telah bersabda, di antaranya;
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan, kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakannya hasan shahih)
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. اِنَّ بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَليٰ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرَقَتْ اُمَّتِيْ عَليٰ ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِيْ النَّارِ اِلاَّ مِلَّةً وَاحِيْدَةً قَالُوْا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ مَا اَنَا عَليْهِ وَاَصْحَبِيْ
Dari Abdullah bin Amr. Dia berkata bahwa Rasulullah Shallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya umat Bani Israil terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Kesemuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan yang akan selamat.” Para sahabat berkata, “Siapa satu golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Golongan yang mengikuti ajaranku dan ajaran para sahabatku.” (HR. Imam al-Tirmizi. No. 2565).
Setiap mazhab yang bergulat dalam pemahaman teologi tersebut tentunya menuai animo para responden. Ada di antara mereka yang menyanggah, membantah, atau -bahkan- menolak, dan ada pula yang menjadi penganut. Bahkan pula, di antara mazhab-mazhab teologi itu pernah sangat berpengaruh atau masih berpengaruh dalam pemerintahan Islam sampai sekarang, baik secara signifikan atau pun temporer, seperti Mu’tazilah, Syiah, Khawarij, As’ariyah, dan Maturidiyah.
Pada ranah syariat, circle pemahaman terkait fikih tidak kalah dinamisnya dan sangat berpengaruh dalam landasan interaksi sosial (hablun min al-nas) yang tentunya -sama seperti ranah akidah- bersumber pada naqliyah (al-qur`an dan sunnah) dan aqliyah (ijma dan qiyas). Sebagian, memang tidak menggunakan qiyas (analogi), tetapi menggunakan istihsan dan istishab dalamlandasan kaidah-kaidah fikih (qawaid fiqhiyah).







