nahdlatul-ulama-nu
Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam dengan dua asas pokok, yaitu aqidah dan syariat. Semua pemeluk Islam wajib berlandaskan kepada dua asas itu dalam menjalankan keislamannya.
Share :

Selintas tentang Ahlunsunnah wal Jama’ah

Penyebutan Ahlusunnah wal Jama’ah telah diperkenalkan secara ekplisit dan implisit oleh Rasulullah Shallahu alaihi wasallam di masa hidup beliau. Di antara penyebutan itu tertuang pada hadits;

عن أبي نجيح العرباض بن سارية رضي الله عنه قال : وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون ،فقلنا يا رسول الله كأنها موعظة مودعٍ فأوصنا ،قال :أوصيكم بتقوى الله عزوجل والسمع والطاعة وإن تأمر عليك عبد، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديّين عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة (رواه أبوداود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح(

Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah Radiyallu’anhu berkata,Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran. Kami bertanya, Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat.Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya siapa pun diantara kalian kelak masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Maka dari itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian. Jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih)[Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ(أخرجه مسلم(

Baca Juga :  KONTROVERSI SAHABAT BERASAL DARI NUSANTARA

“Sesungguhnya Allah meridlai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula. Allah meridlai kalian bila kalian menyembah–Nya tanpa menyekutukan–Nya dengan sesuatu apa pun, berpegang tegung kepada tali Allah dan tidak berpecah belah. Dan, Allah tidak menyukai bila kalian berkata sia-sia, banyak bertanya dan membuang-buang harta.” (HR Muslim no: 1715)

Di dalam Al-Nihayah karya Ibn Katsir terdapat hadits yang menyebut golongan umat Nabi Muhammad yang selamat itu adalah jamaah. Rasulullah SAW bersabda,


افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Satu golongan di antaranya masuk surga, dan 70 lainnya masuk neraka. Kaum Nasrani telah terpecah menjadi 72 golongan. 71 di antaranya masuk neraka, dan hanya satu golongan yang masuk surga. Demi Allah yang Menggenggam jiwaku, sesungguhnya umatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 golongan. Satu golongan di antaranya masuk surga, dan 72 lainnya masuk neraka.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang masuk surga itu?” Beliau bersabda, “Jamaah.” (HR Ibnu Majah dari ‘Auf bin Malik RA)

Seiring dengan perkembangan zaman dalam masa peluassan Islam, persoalan akidah menguak ke permukaan. Para ahli manthiq (logika) yang saat itu baru memeluk Islam dan masih kental dengan kemusyikan menjadi pelopor perdebatan seputar permasalahan akidah. Pada fase ini, muncullah para ahli teologi Islam yang menyusun sistematika dan rumusan Ahlusunnah wal Jama’ah untuk mematahkan serangan para penghujat tersebut. Di antara mereka yaitu, Abu al-Hasan al-Asy’ari (873-936 M) dan Abu Mansur al-Maturidi (853-944 M). Lalu, sistematika dan rumusan kedua tokoh ini menjadi identitas bagi golongan Ahlussunah Waljama’ah (Prof. Dr. TGK. H. Muslim Ibrahim, Lc, MA, Siapa yang Merumuskan Ahlusunnah Wal Jama’ah, Serambinews, 2012). Dengan ibarah (statement)lain, siapa pun yang mengikuti mazhab kedua tokoh adalah golongan Ahlusunnah Wal Jama’ah (Ibn Hajar al-Haitami, Tathhirul Janan, hlm. 7).

Baca Juga :  Keutamaan ILMU

Golongan Ahlussunnah wal Jamaah pada akidah dan ubudiyah kemudian berkembang ke ranah tasawuf. Pada akidah, faham Asy’ariyah dan Maturidiyah menjadi acuan. Pada fiqih atau hukum Islam, salah satu empat mazhab, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambaliyah yang berlandaskan Al-Quran, hadits, ijma dan qiyas menjadi acuan. Sedangkan pada tasawuf, ajaran para ulama ahli suluk menjadi acuannya.

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *