Syekh Imam Nawawi al-Bantani

Syekh Imam Nawawi al-Bantani: https://www.laduni.id

Nusantara -lebih umum di sebut Asia Tenggara dahulu kala- sudah mengenal Islam sejak abad ke-1 Hijrah/7 Masehi atau sejak kekhalifahan Ustman bin Affan ra. Perkembangan Islam yang sekaligus memotivasi kemajuan ilmu pengetahuan telah menarik perhatian para penguasa muslim dan ummat Islam Jawi (sebutan lain untuk Nusantara di masa lalu) untuk mendalami ilmu-ilmu Islam sehingga mendelegasikan para penuntut ilmu -khususnya dari kalangan istana dan hartawan- ke Hijaz (Mekah dan Madinah).
Share :

Pendidikan dan Aktivitas Syaikh Nawawi al-Bantani

Pada usia lima tahun beliau belajar langsung dibawah asuhan Ayahandanya ‘Umar bin “Araby seorang ulama yang pertama membangun pondok pesantren di daerahnya. dari Ayahnyalah Muhammad Nawawi mendapatkan Ilmu Pengetahuan khususnya Ilmu Agama seperti Bahasa Arab, tauhid, fiqih dan tafsir. Setelah itu barulah Muhammad Nawawidan kedua adiknya Ahmad dan Tamim belajar kepada ulama-ulama lain seperti Kyai Sahal di Bantam dan Kyai Yusuf seorang Ulama terkenal di Purwakarta (Yasin, Melacak Pemikiran Syaikh Nawawi Al-Bantani, 2007, hlm. 61). Pada saat usianya memasuki delapan tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara itu memulai pengembaraannya mencari ilmu. Tempat pertama yang dituju adalah Jawa Timur, setelah tiga tahun di Jawa Timur, beliau pindah ke salah satu pondok di daerah Cikampek (Jawa Barat) khusus belajar lughot atau bahasa (Kafabihi Mahrus. Ulama Besar Indonesia Biografi dan Karyanya,  2007, hlm. 518).

Syaikh Muhammad Nawawi adalah seorang ulama yang haus ilmu pengetahuan. Setelah beliau belajar kepada orang tuanya sendiri dan beberapa ulama di jawa, beliau (pada usia 15 tahun) bersama kedua saudaranya Tamin dan Ahmad berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Beliau bermukim di sana selama 3 tahun dan kembali ke Tanara untuk mencoba mengembangkan ilmu yang dipelajarinya (Kafabihi Mahrus. Ulama Besar Indonesia Biografi dan Karyanya,  2007, hlm. 51).

Namun, kondisi tanah air pada saat itu masih berada di bawah jajahan belanda dan setiap gerak gerik ulama selalu diintai oleh kolonial Belanda (Sudirman Teba, Mengenalkan Wajah Islam Yang Ramah, 2007, hlm. 157) dan juga karena kehidupan intelektual di Mekah sangat menarik hatinya menjadi penyebab beliau kembali ke Mekah setelah kurang lebih tiga tahun menetap di tanara dan kemudian menetap di Syi’ib Ali sampai akhir hayatnya (Yasin, Melacak Pemikiran Syaikh Nawawi Al-Bantani, 2007, hlm. 62). Beliau belajar untuk pertama kali di Masjidil Haram Mekah kepada Sayyid Ahmad Nahrawi, Sayyid Ahmad Dimyati, Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (ketiganya dari Mekah). Setelah itu, beliau belajar kepada Syaikh Muhammad Khotib Al-Hanbali dari Madinah, Syaikh khotib As-sambasi, dan Syaikh Yusuf Sumbawani dari Indonesia yang bermukim di Mekah (Kafabihi Mahrus, Ulama Besar Indonesia Biografi dan Karyanya,  2007, hlm. 619).

Baca Juga :  AHLUSUNNAH wal JAMA’AH dan KEASWAJAAN NAHDLIYAH

Pencarian Syaikh Nawawi terhadap ilmu pengetahuan tidak berhenti sampai di situ, tetapi beliau juga pergi ke Negara-negara lainnya seperti Mesir dan Suriah. Di  sana, beliau belajar kepada  para ulama Besar seperti Yusuf Samulaweni, Al-Nakhrawy dan Abdul Hamid al-Daghastani yang ketiganya dari Mesir.

Setelah Syaikh Nawawi mencapai sukses belajar, beliau menjadi guru di Masjidil Haram selama 30 tahun. Di antara murid beliau yang kemudian dikenal oleh bangsa dan umat Islam Indonesia sebagai ulama ternama adalah KH. Kholil Bangkalan, KH. Tubagus Muhammad Asnawi di Caringan (Jawa Barat), KH. Hasim Asy’ari Tebu Ireng Jombang Jawa Timur, KH. Asy’ari Bawean, KH. Nahjun Kampung Gunung Mauk Tangerang, KH. ASnawi Caringin Labuan Pandeglang Banten, KH. Ilyas Kampung Teras Tanjung Kec. Karagilan Kab. Serang banten, KH. Abdul Ghoffar Kampung Lampung Kec. Tirtayasa Kab. Serang Banten, KH. Tubagus Bakri Sempur Purwakarta. Ada juga murud- murid yang terkenal dari negara lain, seperti Dawud Perak (Kuala Lumpur Malaysia), dan Abd. Al- Sattar bin Abd. Al-Wahhad Al-Dahlawi dari Mekah (Yasin, Melacak Pemikiran Syaikh Nawawi Al-Bantani, 2007, hlm. 62).

Syaikh Muhammad Nawawi adalah seorang pendidik yang piawai. Beliau adalah sang penabur benih bagi tumbuhnya ilmu-ilmu agama dan perkembangannya di Nusantara sekaligus mengajarkan kesalehan kepada murid-muridnya selama lebih dari 30 tahun.

Di kalangan komunitas pesantren khususnya di tanah Jawi, Syaikh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tetapi maha  guru sejati (the great scholar). Beliau berjasa besar meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren sekaligus membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren. Hal ini dibuktikan oleh para muridnya setelah pulang ke Nusantara berkiprah sebagai pendiri pesantren, seperti: KH. Kholil Bangkalan dan KH. Hasim Asy’ari Tebu Ireng Jombang Jawa Timur bertujuan mendakwahkan ilmu dan ajaran yang telah diperolehnya sehingga terlihat sampai sekarang bahwa materi dan metode dalam pengajaran di pesantren tidak lepas dari jasa Syaikh Muhammad Nawawi.

Baca Juga :  Pimpinan Tertinggi NU

Selain digunakan untuk mengajar para muridnya, kehidupan beliau banyak dicurahkan untuk menulis kitab. Ada yang mengatakan bahwa kitab karya beliau mencapai 99 buah dan ada pula yang menyebut 115 buah (Sudirman Teba, Mengenalkan Wajah Islam Yang Ramah, 2007, hlm. 158). Aktivitas karya tulis beliau banyak karena desakan sebagian kolegannya yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal dari Jawi karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab yang beliau tulis sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (Syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan lainnya dari aktivitas ini keinginan beliau untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (tahrif) dan reduksi (www. biografyilmuwan.blogspot.com).

Syaikh Muhammad Nawawi tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai ulama besar  generasi terakhir. Beliau dikenal sebagai salah seorang ulama Hijaz, Imam al-Ulama al-Haramain, guru besar pada Nasyr al-Diniyah di Mekah, dan mempunyai peran penting dalam memutuskan hukum-hukum fiqih di kawasan kota suci itu.

Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani wafat pada 1314 H/1897 M di tempat kediaman beliau di kampung Syi’ib Ali Mekah. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Ma’la berdekatan dengan makam Ibnu Hajar dan Siti Asma binti Abu Bakar al-Shiddiq. Beliau wafat pada saat sedang menyusun buku yang menguraikan Minhaj al-Thalibin karya Imam Yahya bin Syaraf bin Mura bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah al-Nawawi (Kafabihi Mahrus, Ulama Besar Indonesia Biografi dan Karyanya,  2007, hlm. 6-8).

Umat Islam di desa Tanara Tirtayasa Serang Banten pada setiap tahun di hari Jumat terakhir bulan Syawal selalu menyelenggarakan acara haul untuk memperingati jejak peninggalan Syaikh Nawawi Banten (Sudirman Teba, Mengenalkan Wajah Islam Yang Ramah, 2007, hlm. 156).

Baca Juga :  Hukumnya Mengucapkan Salam, Innalillahi dan Mendoakan Menggunakan Stiker WhatsApp

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *