Syekh Imam Nawawi al-Bantani

Syekh Imam Nawawi al-Bantani: https://www.laduni.id

Nusantara -lebih umum di sebut Asia Tenggara dahulu kala- sudah mengenal Islam sejak abad ke-1 Hijrah/7 Masehi atau sejak kekhalifahan Ustman bin Affan ra. Perkembangan Islam yang sekaligus memotivasi kemajuan ilmu pengetahuan telah menarik perhatian para penguasa muslim dan ummat Islam Jawi (sebutan lain untuk Nusantara di masa lalu) untuk mendalami ilmu-ilmu Islam sehingga mendelegasikan para penuntut ilmu -khususnya dari kalangan istana dan hartawan- ke Hijaz (Mekah dan Madinah).
Share :

Ajaran-ajaran Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani

Ajaran Syaikh Muhammad Nawawi terlihat pada buku-bukunya yang mencangkup hampir semua aspek ajaran Islam, khususnya tauhid, fiqh dan tasawwuf. Ini berarti bahwa dalam pandangannya, islam merupakan panduan ketiga bidang ajaran ini dan beliau tidak menekankan satu bidang ajaran melebihi bidang ajaran yang lain.26 Karena itu orang Islam beriman kepada Allah, lalu melaksanakan ibadah (hubungan vertikal manusia dengan Tuhan) dan muamalah (hubungan horisontal manusia dengan sesamanya dan makhluk padaumumnya, termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang) dan memiliki akhlak yang mulia sebagai esensi ajaran tasawufnya. Pandangan keagamaan seperti itu sebenarnya bukan khas pandangan Syaikh Muhammad Nawawi sendiri, tetapi merupakan pandangan ulama sunni pada umumnya, yaitu bahwa ajaran tasawwuf tidak berdiri sendiri dan hanya merupakan bagian dari ajaran Islam pada umumnya. Dalam beberapa tulisannya seringkali Syaikh Muhammad Nawawi mengaku dirinya sebagai penganut teologi Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya yang banyak dikaji di Indonesia di bidang ini diantaranya Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah,al-Tsumar al-Yaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su’ud.

Syaikh Muhammad Nawawi mengikuti teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sebagai penganut Asyariyah, Syekh Muhammad Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifa-sifat Allah. Beliau membagi sifat Allah ke dalam wajib, mustahil dan mumkin. Walaupun beliau bukan orang pertama yang membahas konsep sifat Allah, namun beliau dinilai orang yang berhasil memperkenalkan teologi Asy’ari sebagai sistem teologi yang kuat dalam konteks Indonesia. Sementara itu di bidang fikih, beliau adalah “obor” mazhab Imam Syafi’I bagi negeri ini. Melalui karya-karya beliau di bidang fikih, seperti SyarhSafinat al-Naja, Syarh Sullam al-Taufiq, Nihayat al-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in dan Tasyrih ala Fathul Qarib, beliau berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara sempurna.

Baca Juga :  Kegiatan Dzikir dan Ilmu di Ranting NU Rawakalong

Pada 1870 para Ulama Universitas al-Azhar pernah mengundang Syaikh Nawawi al-Bantani untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah karena  karya-karya beliau telah banyak tersebar di Mesir (www. biografyilmuwan.blogspot.com).

Wallahu’alam bishawab, wallahul muwuafiq ila aqwamithariq.

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *