PETUALANGAN DAN AKADEMI KONTEKSTUAL - 1
Dinamika kehidupan yang beragam membuat saya memenuhi isi pikiran dan otak. Aktivitas yang monoton memicu untuk melakukan banyak hal untuk mengisi hari-hari dengan sesuatu. Bagi saya belajar merupakan sesuatu yang bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun dengan sumber apapun. Tak sedikit saya menemukan pelajaran atau ilmu dengan hal-hal yang bersifat kontekstual. Kehidupan masyarakat, suasana lingkungan ,perjalanan, bahkan situasi negara tak segan untuk ku jadikan bahan ajar demi memenuhi bank pengetahuan yang ada di dalam diri.
Share :


Pendahuluan

Setiap manusia memiliki beragam dalam mengarumi kehidupannya. Dengan versinya masing-masing manusia memilih jalan untuk menentukan arah hidupnya, tentunya akan melewati perjalanan panjang hidup. Berbagai proses dilalui, dari masa ke masa hingga menuju harapan. Semua itu dilandasi dengan pembelajaran hidup masing-masing yang didapatnya. Setiap pembelajaran memiliki makna untuk menempuh proses kehidupan yang akan di lalui oleh setiap manusia, tentunya semua memiliki harapan besar agar terwujudnya kebahagiaan yang hakiki. Namun itu semua tidak semulus yang dibayangkan, perlu kerja keras serta upayah bahkan doa yang lebih dari cukup untuk mendapatkannya. Di dalam agama dijelaskan bahwa setiap menanam kebaikan akan mendapatkan kebaikan pula. Oleh karenanya, jika manusia ingin mendapatkan kebaikan tentunya harus berbuat yang lebih untuk kebaikan. Niscaya Tuhan akan memberikan peluang untuk kita.


Dalam mendapatkan pelajaran berarti, banyak sumber di dunia ini yang dapat dijadikan landasan dan referensi. Manusia salah satunya yang menjadi sumber pelajaran bagi kita untuk mendapatkan banyak hal, baik dari dialektika,pengamatan dan lain sebagainya. Kemudian alam sebagai referensi belajar untuk manusia, kita bisa jadikan alam sebagai bahan ajar kehidupan, berfikir, dan bertafakur tentang kehidupan yang dapat memberikan spirit bagi tubuh kita secara jasmani bahkan ruhani. Dan pengalaman sebagai sumber inspirasi untuk menjadi bahan belajar, karena hakikatnya pengalaman adalah pelajaran yang sangat berarti. Dari pengalaman itu, manusia dapat mengevaluasi diri, bercermin dan lain sebagainya yang dapat merubah menjadi lebih baik.


Pada tulisan ini saya akan menuangkan tulisan yang bertemakan : Petualangan,Belajar dari Alam , Manusia, dan Pengalaman. Karya ini terinspirasi dari bebrapa hasil perjalanan saya yang menjadi inspirasi dan membuahkan sesuatu yang manfaat sampai saat ini. Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.



Petualangan Belajar Dari Manuasia, Alam dan Pengalaman

Dinamika kehidupan yang beragam membuat saya memenuhi isi pikiran dan otak. Aktivitas yang monoton memicu untuk melakukan banyak hal untuk mengisi hari-hari dengan sesuatu. Bagi saya belajar merupakan sesuatu yang bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun dengan sumber apapun. Tak sedikit saya menemukan pelajaran atau ilmu dengan hal-hal yang bersifat kontekstual. Kehidupan masyarakat, suasana lingkungan ,perjalanan, bahkan situasi negara tak segan untuk ku jadikan bahan ajar demi memenuhi bank pengetahuan yang ada di dalam diri.

Baca Juga :  Mbah Lurah Kalurahan - Ulama Pabuaran

Baduy sebagai perjalanan alam dan akademi kontekstual

Dari beberapa macam perjalanan yang saya lakukan sejauh ini, banyak sekali mengahasilkan pelajaran luar biasa yang dapat saya jadikan pegangan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan bermasyarakat bahkan berketuhanan. Salah satu dari perjalanan itu ialah perjalanan menuju Baduy. Sebuah tempat yang berlokasi di daerah Banten. Tepatnya, di daerah Rangkasbitung pedalaman.

Suku Badui (Bahasa Badui: Urang Kanékés) atau kadang sering disebut Badui merupakan masyarakat adat dan sub-etnis dari suku Sunda di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Populasi mereka sekitar 26.000 orang, mereka merupakan salah satu kelompok masyarakat yang menutup diri mereka dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Badui Dalam.

Di dalam perjalanan ini, tak sedikit saya mendapatkan pengetahuan baik materi maupun non materi yang sedikit saya aktualisasikan dalam kehidupan. Dari mulai penghargaan terhadap orang lain, struktur moral, bahkan hakihat manusia mengalir secara alami di kehidupan mereka. Suasana kehidupan yang sejuk serta alam yang bersahabat turut serta membungkus nilai-nilai hidup mereka.

Beberapa tahun silam tepatnya di akhir pekan, saya meniatkan diri untuk mengunjungi suku baduy. Dengan perbekalan seadanya dan persiapan yang sesderhana saya bergegas menuju baduy. Di temani dengan teman saya, berangkatlah kesana di hari jumat malam pukul 00.00. Sabtu pagi tiba di terminal Ciboleger, perasaan bingung menyelimuti kepala kami, mau apa dan harus bagimana langkah selanjutnya. Rasa bingung pun hilang ketika salah seorang petugas menghampiri dan berkomunikasi dengan kami. Akhirnya, kami pun berdiskusi apa yang menjadi tujuan dan petugas memberi solusi untuk melanjutkan perjalanan menuju baduy dalam.Terlihat sosok seseorang asli dari baduy menghampiri kami, ternyata petugas itu lah yang memanggilnya agar dapat menghantarkan kami menuju baduy dalam. Begitulah sistem simaksi dalam perjalanan baduy. Setelah melakukan per administrasian, kami pun mulai melakukan perjalanan yang di temani oleh Kang Ade atau Pulung sebutan orang baduy terhadap golongan pemuda baduy. Kami pun berkenalan dan selama diperjalanan kami banyak melakukan interaksi sehingga keakraban muncul antara kami dengan dia.

Baca Juga :  Harakah Nahdliyah Khidmah Khalishah

Delapan jam perjalanan menuju baduy dalam, perjalanan yang memiliki medan naik turun bukit, membuat rasa lelah semakin menggebu, tak enggan kami beristirahat ketika lelah mulai datang. Suasanan alam yang asri dan pertanian serta perkebunan yang subur, membuat mata dan hati kami terasa damai, di tambah dengan keramahan masyarakat baduy yang sangat santun. Setelah melakukan perjalanan panjang, tibalah kami di baduy dalam.Tepatnya, desa Cibeo yang ternyata dari beberapa puluhan rumah salah satunya ialah rumah kang Ade. Kami menginap disana bersama keluarganya. Orang tuanya kakak sampai adik-adiknya. Dari rumah dan desa ini saya banyak mendapatkan pelajaran yang berharga, bahkan tidak kalah dengan pelajaran yamg saya dapatkan ketika saya duduk di sekolah dahulu. Keesokan harinya kami pun bergegaqs untuk kembali pulang ke rumah.

Nilai Kebaikan dan Mutiara yang melekat pada orang Baduy

Di saat saya bersama di kediamannya , komunikasi dan diskusi kami lakukan setelah makan malam bersama semua keluarga Kang Ade. Ayahnya yang sangat sopan dan bijaksana dengan keluarganya memiliki sifat ramah terhadap kami, sehingga kami pun enggan berhenti melakukan dialog dengannya. Dari mulai keluarga,kehidupan,dan persoala bumi ini menjadi bahan diskursus malam menjelang tidur.

  1. Toleransi : meiliki sifat toleransi yang baik. Terbukti saat saya hendak melakukan ibdah sholat magrib, air wudhu yang seharusnya didapati di sungai, dengan refleks kang Ade bersama ayahnya mengambil dan menyiapkan wudhunya bahkan membersihkan tempat agar kami nyaman ibadah . Ujar dia’’.
  2. Rendah hati : saat melangsungkan komunikasi terlihat dan terasa apa yang dia sampaikan bersumber dari hati dan polos apan adanya.
  3. Bijaksana : semua anak-anaknya ketika mengambil keptusan, hendaknya menanyakan kepada orang tuanya. Makanan yang saya berikan kepada anak-anaknya tidak langsung di raih, mereka bertanya mengambilnya ketika mendapat persetujuan dari orang tuanya.
  4. Menghargai Alam : Alam sebagai sumber kekuatan, sebagai sarana bersyukur. Itulah yang melekat pada nya. Dari alam mereka bisa melangsungkan kehidupan sampai saat ini.
  5. Guyub dan saling memberi : sesama masyarakat baduy, sangat dekat sekali ketika melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Saling membantu,memberi dan bermusyawarah ketika ada hal apapun.
  6. Patuh kepada pemimpin : Puun istilah ketua suku di sana, yang kedudukannya ada di atas jaro. Masyarakat sangat patuh terhadap puun untuk meminta pendapat dan nasihat .
  7. Berjiwa Spiritualis : keyakinan terhadap leluhur atau karuhun masih di pertahankan sampai saat ini.
Baca Juga :  Hukumnya Mengucapkan Salam, Innalillahi dan Mendoakan Menggunakan Stiker WhatsApp

Dari Perjalanan ini , sebuah pengalaman yang berharga bagi saya sebagai pemuda yang hidup dalam hiruk pikuk aktivitas beraneka ragam manusia. Setidaknya ini bisa menjadi pelajaran bagi saya untuk saya aktualisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun orang mengenalnya mereka suku pedalaman tetapi dari pola pikir mereka ,maju sebagai manusia yang beradab. Itulah saya menyebutnya dengan akademi kontekstual.

Sudah saatnya kita generasi muda berupaya untuk mewujudkan kesadaran akan nilai – nilai yang sudah di wariskan oleh para leluhur untuk menjaga Negeri ini. Di samping kita harus meningkatkan potensi akademik, kita juga harus meningkatkan nilai-nilai moral serta akhlak di dalam diri, agar bisa menguatkan bangsa ini demi terciptanya bangsa yang kuat dan berintegritas dan ber moral.

Inilah sedikit coretan saya berdasarkan pengalaman perjalanan yang saya lakukan. Bukan hanya belajar tapi kesadaran yang saya dapati dari perjalanan ini.

Sekian Terimakasih.

Penulis