
Setiap organisasi dipastikan memiliki beberapa tingkatan kepemimpinan. Yaitu tingkat kepemimpinan yang level bawah sampai tingkat kepemimpinan paling tinggi. Di dalam setiap level tentunya diatur pula sistem kepemimpinannya, ada yang ruang lingkupnya kecil dan terbatas, ada pula yang memegang tanggung jawab yang ruang lingkupnya lebih besar dan lebih luas. Ketika level kepemimpinannya rendah maka tanggung jawabnya rendah dan semakin tinggi level kepemimpinannya semakin tinggi pula tanggung jawabnya.
Setiap Manusia Adalah pemimpin
Jika makna organisasi adalah sekumpulan orang yang terdiri dua orang atau lebih yang bekerja sama mencapai tujuan maka untuk menjadi pemipin tidak harus menjadi pengurus sebuah ormas. Ketika seseorang sudah berumah tangga, ada istri ada anak maka secara otomatis dia adalah pemipin organisasi keluarga. Jika di tempat kerja seseorang dijadikan pemimpin maka dia adalah pemimpin organisasi.
Didalam Al Qur’an Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ فِى الْاَرْضِۗ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهٗۗ وَلَا يَزِيْدُ الْكٰفِرِيْنَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ اِلَّا مَقْتًا ۚوَلَا يَزِيْدُ الْكٰفِرِيْنَ كُفْرُهُمْ اِلَّا خَسَارًا
Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Siapa yang kufur, (akibat) kekufurannya akan menimpa dirinya sendiri. Kekufuran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kemurkaan di sisi Tuhan mereka. Kekufuran orang-orang kafir itu juga hanya akan menambah kerugian mereka.
(Fāṭir [35]:39)
Yang menarik untuk dikaji adalah kata kholaifa yang artinya kholifah-kholifah, ulama tafsir menjelaskan, bahwa lafal Khalaa-if adalah bentuk jamak dari Khaliifah, yang memiliki arti penganti-pengganti, artinya Dia mengganti sebagian di antara kalian dengan sebagian yang lain, yaitu generasi demi generasi (Tafsir Jalalen).
Ini memberi pengertian bahwa setiap generasi kita adalah kholifah yaitu orang-orang yang menggantikan generasi sebelumnya diatas muka bumi ini. Ulama tafsir yang lain menjelaskan bahwa makna kholaifa adalah para pemimpin, yaitu mereka yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, setiap kita adalah kholifah bagi diri kita, istri kita, anak kita, karyawan kita, jadi setiap manusia adalah kholifah diatas muka bumi ini dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. (Tafsir Sowi).
Artinya setiap orang siapapun dia dalam level kepemimpinan apapun dia, pemimpin perusahaan, pemimpin ormas, para pejabat pemerintahan dari RT sampai presiden, pemimpin rumah tangga, manusia yang memimpin dirinya sendiri dan orang yang terkait dengannya adalah kholifah.
Hal ini dikuatkan dengan hadis Nabi Muhammad Sholalohu alaihi wasallam.
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai. pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya” (HR al-Bukhari).
Pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin, sesuai dengan ruang lingkup tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya. Bahkan manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri karena dia memiliki unsur dan anggota yang harus dikendalikan oleh dirinya sendiri agar bisa mencapai tujuan hidupnya.
Pimpinan Tertinggi NU
Didalam Organisasi atau Jamiyyah Nahdhatul Ulama ada aturan tentang kepemimpinan. Didalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah tangga dijelaskan tentang aturan itu. Merujuk kepada AD/ART NU Hasil Muktamar ke-34 Lampung PBNU masa khidmat 2022-2027 BAB VII tentang kepengurusan dan masa Hidmat disebutkan bahwa kepengurusan NU terdiri dari Mustasyar, Syuriah dan Tanfidiyah. Mustasyar adalah penasehat yang terdapat di Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang/ Pengurus Cabang Istimewa, dan Pengurus Majelis Wakil Cabang. Syuriah adalah pimpinan Tertinggi Nahdlatul Ulama dan Tanfidiyah adalah pelaksana.
Didalam BAB VIII tentang tugas dan wewenang dijelaskan, 1) Mustasyar bertugas Memberikan nasehat kepada pengurus Nahdlatul Ulama menurut tingkatannya baik diminta atau tidak. 2) Syuriah bertugas dan berwenang membina dan mengawasi pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi sesuai tingkatannya. 3) Tanfidiyah mempunyai tugas dan wewenang menjalankan pelaksanaan keputusan – keputusan organisasi sesuai tingkatannya.
Adapun susunan pengurus diatur menurut ketentuan yang ditetapkan dalam AD/ART sesuai dengan tingkatan kepengurusan. Untuk tingkat Majelis Wakil Cabang yaitu terdiri dari, 1) Mustasyar terdiri dari beberapa orang sesuai dengan kebutuhan. 2) Pengurus Harian Syuriah terdiri dari Rais, Beberapa Wakil Rais, Katib, dan Beberapa Wakil Katib. 3) Pengurus lengkap Syuriah terdiri dari Pengurus Harian Suriyah dan A’wan. 4) Pengurus harian Tanfidiyah terdiri dari Ketua, beberapa Wakil Ketua, Sekretaris, beberapa Wakil Sekretaris, Bendahara dan beberapa Wakil Bendahara. 5) Pengurus Pleno terdiri dari Mustasyar, Pengurus Lengkap Syuriah, Pengurus Harian Tanfidiyah dan ketua Badan Otonom tingkat Majelis Wakil Cabang.
Jika melihat aturan kepemimpinan diatas maka yang disebut dengan pimpiinan tertinggi dalam Jamiyyah Nahdhatul ulama adalah Syuriah. Syuriah miliki tanggung jawab yang sangat besar di dalam Jamiyyah Nahdhatul ulama. Syuriah memiliki beberapa unsur dan unsur yang tertinggi adalah Rois. Rois Syuriah adalah pemimpin tertinggi dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama dalam semua level dan di level Pengurus Besar di Sebut Rois ‘Aam. dan Rois ‘Aam yang pertama adalah Hadrotus Syaikh KH.M. Hasyim Asy’ari dan beliau diberi gelar Rois Akbar.
Karena Rois adalah pemimpin tertinggi maka syarat, proses rekrutmen dan pemilihannyapun sangat ketat. Sebelum Rois dipilih, maka dipilih dulu Anggota Ahlulhal Wal Aqdi ( AHWA ) yang diseleksi menjadi 5 orang ulama yang ditetapkan secara langsung dalam Konferensi Majelis Wakil Cabang. Kriteria ulama yang dipilih menjadi Ahlulhal Wal Aqdi adalah sebagai berikut : berakidah Ahlussunah Waljamaah An Nahdhiyah, bersikap adil, ‘alim, memiliki integritas moral, tawadhu’, berpengaruh dan memiliki pengetahuan untuk memilih pemimpin yang munadzdzim dan muharrik serta wara’ dan zuhud. Rois dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat dari salah satu 5 anggota AHWA. Setelah Rois terpilih, lalu diberi hak untuk bisa membatalkan salah satu calon ketua Tanfidiyah dengan alasan yang rasional. Dengan syarat yang ketat dan wewenang yang besar itu, maka Rois memiliki kedudukan yang tinngi dalam organisasi Nahdlatul ulama.
Kedudukan yang tinggi memiliki tanggung jawab dan tantangan yang tinggi. Semua kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban baik dihadapan manusia dan dihadapan Sang Maha Pencipta. Semoga siapapun yang diberi amanah memegang pimpinan Tertinggi Nahdlatul Ulama memiliki niat yang ikhlas karena Allah, tidak punya ambisi duniawi dan diberikan kesabaran, kekuatan dan pertolongan Allah dalam berkhidmat meneruskan perjuangan para ulama dan Aulia Allah Subhanahu Wata’ala. Aamiin







