ulama-nusantara
Secara singkat di sini akan dilintaskan para pelaku sejarah besar ini agar dapat kemudian ditelusur oleh kita yang gemar sejarah dari berbagai sumber-sumber lain yang dapat memverifikasi sehingga didapat kejelasan historisnya dan sehingga kita dapat menilai unsur-unsur penting akar penyebaran Islam sebelum walisongo berperan di dalamnya di Negeri Jawi atau Nusantara ini.
Share :

Konon, pernah hidup seorang raja dari Nusantara yang berumur panjang dan beliau mendengar kabar tentang seorang nabi yang diutus di Mekah. Beliau mendatangi sang nabi dan singkat kisah, beliau memeluk Islam. Raja yang dimaksud itu adalah Sri Paduka Maharaja atau dalam penyebutan lisan Arab disebut dengan Sri Baduga Malik al-Hind.

Kisah hidup dan pertemuan sang raja dengan sang nabi ini selain mengandung kontroversi, tetapi juga mengundang kepenasaran untuk diketahui proses pertemuan tersebut karena bersumber dari hadits-hadits yang dianggap dlaif (lemah), tetapi termaktub di dalam buku-buku sejarah Islam termasuk Usd al-Ghabah fi Ma’rifah al-Shahabah.

Secara singkat di sini akan dilintaskan para pelaku sejarah besar ini agar dapat kemudian ditelusur oleh kita yang gemar sejarah dari berbagai sumber-sumber lain yang dapat memverifikasi sehingga didapat kejelasan historisnya dan sehingga kita dapat menilai unsur-unsur penting akar penyebaran Islam sebelum walisongo berperan di dalamnya di Negeri Jawi atau Nusantara ini.

Sosok yang dimaksud sebagai sang nabi yang diutus di Mekah tidak lain adalah Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasalam. Berita tentang nubuwat beliau memang sudah ditahbiskan di dalam kitab-kitab agama samawi (Yahudi dan Nashrani). Di antaranya, al-Qur`an: 61 (al-Shaf):6 menyitir ucapan Nabi Isa ‘alaihisalam (Hai Bani Israil, sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku bernama Ahmad (Muhammad)). Tetapi juga cukup mencengangkan tatkala berita ini juga termuat di dalam kitab nonsamawi.

Prof. Menachem Ali menyebutkan bahwa di dalam Bagavad Gita, kitab agama Hindu tentang Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasalam dengan sebutan berdasarkan tradisi kebahasaan bangsa India, seperti Manu adalah sebutan untuk Nabi Nuh, sedangkan Narasangsa -di dalam Atharvaveda, Mantra 1- adalah sebutan untuk Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasalam. Sebutan ini bisa dianggap meyakinkan karena di dalam Bhavisa Purana, Pratisarag III, Khand 3, Adhyay 3, Shalokas 10-27 disebutkan para pengikutnya dengan sebutan musalaman (perantara kedamaian).

Baca Juga :  Ke-NU-an & Aswaja

Dari data di atas, kita bisa mengulas sejarah terkait persebaran agama di Nusantara pada masa awal, yaitu agama Hindu. Lalu, kita dapat menganalisis para kalangan terdidik dan terpelajar terutama para pendeta termasuk para raja adalah para penganut agama Hindu. Mereka mempelajari kitab suci agama ini sehingga mengetahui kabar terntang Narasangsa tersebut.

Sumber lain, Heski Fatimi seorang sejarawan India dapat dikatakan bahwa pendapatnya mengafirmasi dan menguatkan teori tentang Malik al-Hind berasal dari Nusantara dan bukan dari India walaupun pada masanya yang dimaksud dengan sosok Sri Paduka Maharaja itu adalah Raja Sriwijaya yang pernah berkirim surat kepada Kalifah Muawiyah dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tetapi setidaknya sebutan Sri Paduka Maharaja itu memang gelar bagi raja-raja di Nusantara.

Seorang penggiat seni budaya dan sejarah Jawa Barat, Dr. H. Anton Charliyan mengklaim bahwa Sri Paduka Maharaja adalah raja galuh (Shauh dan Qhonuh dalam tradisi lisan Arab). Beliau juga mengungkap sejarah pertemuan Sri Baduga Maharaja dengan Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasalam dari beberapa hadits, yaitu dari Ali bin Abdullah al-Aswari, Maki bin Ahmad, Abu Safiq al-Musafaq (salah satu sahabat yang ikut bertandang ke Nusanrara), Musa al-Madini, dan Abu Said al-Khudlri.

Proses pertemuan Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasalam dengan Malik al-Hind ini berawal dari berita yang beliau ketahui dan kemudian mengutus para sahabat, yaitu Hudzaifah bin Yaman, Amr bin ‘Ash, Usamah bin Zaid, Abu Musa al-Asy’ari, Shuhaib, dan lain-lain. Malik al-Hind kemudian menerima ajakan Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasalam untuk memeluk Islam dan mereka bertemu sebanyak 3 kali, di Mekah dan Madinah.

Beberapa literatur sejarah Islam yang menyebut Malik al-Hind, yaitu 1) Ibn Atsir, Usd al-Ghabah fi Ma’rifah al-Shahabah, no. 1958, 2) Ibn Hajar al-Asqalani, Lisan al-Mizan: vol 4, hlm. 19, no. 3359, 3) Muhammad Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar al-Jamiah li Durari Akhbar al-Aimmah al-Athar: vol. 14, hlm. 520, bab. Ahwal Muluk al-Ardl, dan 4) Al-Hakim, Al-Mustadrak: vol. 4, hlm. 241.

Baca Juga :  Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat

Dikutip dari Usd al-Ghabah: Dari Ali bin Abdullah al-Aswari, dari Makki bin Ahmad berkata: Aku mendengar Ishak bin Ibrahim al-Thusi (saat berusia 97 tahun) berkata: Aku melihat Sri Baduga Malik al-Hind di sebuah negeri bernama Shauh. Aku bertanya: Berapa umur Baginda? Dia berkata: 926 tahun. Dia seorang muslim.

Lalu dikutip dari Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Khalil al-Baghawi tentang pengakuan Sri Baduga. Dia berkata: Aku mendengar Abu Said Mudzaffar bin Asad al-Hanafi al-Muthabib berkata: Aku mendengar Sri Baduga berkata: Aku melihat Muhammad shalallahu’alaihi wasalam di Mekah dua kali dan Madinah satu kali. Aku menemuinya sebagai utusan dari Raja Habasyah. Saat itu aku berumur 480 tahun.

Sejarah lampau ini -mungkin juga disebut sebagai folklor karena pada awalnya diwariskan secara lisan- tidak dapat dikatakan sebagai ‘konon katanya’ atau sebuah dongeng dari negeri entah berantah karena kemudian memiliki sumber-sumber yang cukup kuat dari aspek kesejarahan walaupun bersumber dari hadits-hadist dlaif (lemah). Tetapi, jika berdasar kepada teori sejarah, maka dapat dijadikan acuan karena diringi oleh lebih dari dua kesaksian. Dari pemaparan di atas, sementara dapat disimpulkan bahwa; 1) jika benar Sri Baduga Malik al-Hind berasal dari tatar Sunda, maka diduga akan dapat ditemukan manuskrip kuno atau pun inskripsi yang mengetengahkan tentang beliau. Hanya saja dapat diduga kuat jalmi Sunda-nya sendiri tidak mengerti bahasa Sunda kuno yang bertuliskan aksara pallawa itu. Ini salah satu kendalanya. 2) Dapat dikatakan sebagai jawaban dari pertanyaan; Kenapa Islam di Nusantara ini begitu kuat? Karena salah satu leluhurnya sendiri adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasalam. 3) merupakan soal sejarah untuk terus diteliti kebenarannya oleh para sejarawan sehingga tatkala menjadi sebuah kebanggaan bagi Negeri Nusantara ini menjadi sebuah kebanggaan sejarah yang terkonfirmasi. 4) Apabila benar Sri Baduga Malik al-Hind ini berasal dari tatar Sunda khususnya dan Nusantara umumnya, maka sejak awal Islam memang negeri ini sudah tersentuh cahaya kenabian melalui salah satu atau beberapa sahabat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasalam.

Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *