qurban-1446H
Share :

Pada dasarnya ajaran berqurban dikenal oleh semua agama dan kepercayaan termasuk dalam agama Islam. Dalam Islam perintah berqurban terdapat di surat Al-Kautsar.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ * إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Innā a’ṭainākal-kauṡar(a) * Faṣalli lirabbika wanḥar * Inna syāni’aka huwal-abtar(u)

Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. * Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah! * Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Dalam pemahaman agama Islam Ibadah dikenal dengan adanya tingkatan-tingkatan dalam beribadah, yakni ada tingkatan :

  1. Syariat, syariat adalah ajaran agama yang bersifat wujud lahir
  2. Tarikat/Thoriqoh, tarikat adalah ‘jalan’ atau proses dari syariat menuju hakekat
  3. Hakekat, hakekat adalah esensi atau hal-hal yang menyangkut isi dari agama
  4. Marifat, marifat yaitu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya kenal

Dan ternyata pemahaman kita tentang ajaran agama yang sering kita lakukan setiap hari umumnya memang hanya terkait dengan kulit. Lapisan luar, dasar, elementer, atau pada tingkatan dasar.

Maka wajar jika ritual agama sehari hari yang di jalani belum bisa mungubah sikap dan perilaku para pelakunya. Di masa super modern seperti saat ini manusia sudah dilelahkan dengan berbagai kompleksitas kehidupan sehingga tidak memiliki waktu cukup untuk menukik ke tingkat hakekat apalagi marifat.

Pragmatisme dan hedonisme mengantarkan manusia untuk mencari yang paling praktis dan paling enak. Tanpa harus berpikir apakah hal-hal tersebut memberikan manfaat atau tidak.

Kita bisa melihat dalam realitas kehidupan dimana kebanyakan kita lebih melihat sesuatu yang bersifat lahiriah daripada esensi. Sehingga sebuah capaian yang tertinggi, akhirnya hanya terukur pada kenyataan-kenyataan yang bersifat lahiriah.

Orang dinilai pandai manakala semua nilainya A. Tak peduli bagaimana cara mendapatkannya. Orang dinilai kaya karena kekayaannya yang menggunung. Bukan di lihat dari berapa banyak zakat yang di keluarkannya dan bagaimana cara mendapatkannya.

Baca Juga :  Berdzikir Untuk Mendapatkan Ketenangan Jiwa

Pejabat yaitu mereka yang menduduki pangkat tinggi. Bukan dinilai dari amanahnya. Orang di pandang soleh karena sudah berkali – kali haji dan umroh bukan dilihat dari akhlaqnya. Sangat jarang terpikir bahwa orang pandai adalah mereka yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.

Orang disebut kaya karena mendapatkan hartanya melalui jalan yang halal, dan pejabat adalah mereka yang memegang amanah rakyatnya. Orang yang soleh bukan hanya sudah haji dan umroh serta aktif berjamaah salat di masjid, tapi juga membuahkan akhlaq dari ibadahnya.

Maka wajar jika banyak diantara kita yg mengejar segala keinginan dan impiannya dengan cara cara yg tidak halal. Bahkan agama dijual demi kepentingan pribadinya.

Demikian juga dengan ajaran Idul Qurban atau Idul Adha.

Sesungguhnya Allah SWT tidak menghendaki ajaran Ibadah Berqurban ini berhenti di tataran ibadah syariat, namun terus berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi yaitu tingkat esensi atau hakikat apalagi ma’rifat.

Hal ini terlihat jelas dalam Firman-nya surat Al-Hajj ayat 37. Bahwa Allah SWT tidak melihat daging atau darah. Tapi Allah SWT melihat esensi dari qurban itu sendiri, yakni ketaqwaan.

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

lay yanâlallâha luḫûmuhâ wa lâ dimâ’uhâ wa lâkiy yanâluhut-taqwâ mingkum, kadzâlika sakhkharahâ lakum litukabbirullâha ‘alâ mâ hadâkum, wa basysyiril-muḫsinîn

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.

Jika kita mau merenungi ayat di atas. Sesungguhnya Allah SWT ingin mengajarkan kepada kita bahwa. Hakikat pengorbanan tertinggi manusia dalam ajaran berqurban adalah bukan sekedar mengorbankan unta, sapi, atau kambing tetapi bagimana kita juga mampu mengorbankan ego dan keinginan pribadi demi kebaikan dan kemaslahatan yang lebih besar. Pengorbanan ini juga tidak hanya terbatas pada penyembelihan hewan, tetapi juga melibatkan:

  • Mengorbankankan sifat sifat negatif: seperti kesombongan, keegoisan, dan kebencian.
  • Mengorbankan diri sendiri: untuk melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Baca Juga :  Momen Terindah di Acara Lailatul Ijtima Anak Ranting NU desa Cibinong kecamatan Gunung Sindur

Dalam konteks ini, qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang mengorbankan diri sendiri untuk mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga qurban tahun ini dapat membuka pintu hidayah kita untuk mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi, pada akhirnya mampu membuat kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Barokallahu li Walaikum.

Wallahul muaffiq ila Aqwamitthariiq.

Penulis