KHUTBAH JUM’AT
10 /7/2026
RUNTUHNYA INTEGRITAS, RUNTUHNYA PERADABAN
Refleksi Muhasabah di Tengah Krisis Amanah Bangsa.
Oleh: KH. Munawir, S.H., M.Pd
Ketu MWC NU Gunung Sindur
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Belakangan ini kita sering mendengar berita tentang korupsi dengan nilai yang begitu besar. Hati kita geram, lisan kita mudah mengutuk, bahkan jari-jari kita begitu cepat menghakimi.
Namun sebelum kita sibuk menilai orang lain, marilah kita bertanya kepada diri sendiri.
Jangan-jangan yang membedakan kita dengan para pelaku bukanlah integritas, melainkan kesempatan.
“Astaghfirullah…
Betapa sering kita menganggap korupsi hanyalah persoalan jabatan dan kekuasaan. Padahal akar sesungguhnya adalah hati yang tidak lagi merasa diawasi oleh Allah.
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi pekerjaanmu, yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat amal perbuatanmu. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Infithar: 10–12)
Mungkin kita tidak pernah menggelapkan triliunan rupiah. Tetapi apakah kita benar-benar telah menjaga amanah? Apakah kita tidak pernah berdusta? Tidak pernah mengambil yang bukan hak kita? Tidak pernah memanfaatkan jabatan, waktu, atau kepercayaan orang lain demi kepentingan pribadi?
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Di tengah kegelisahan melihat keadaan hari ini, marilah sejenak kita mengalihkan pandangan kepada manusia terbaik yang pernah dilahirkan di muka bumi.
Sebab, jika kita ingin mengetahui bagaimana sebuah peradaban dibangun, lihatlah kehidupan Rasulullah Saw.
“Jika kita menengok kehidupan Rasulullah Saw, hati ini terasa malu.”
Beliau adalah manusia paling mulia di sisi Allah. Pemimpin negara. Panglima perang. Kepala pemerintahan. Namun ketika beliau wafat, yang beliau tinggalkan bukanlah istana, bukan pula tumpukan emas dan perak. Yang beliau wariskan adalah iman, akhlak, amanah, dan sebuah peradaban yang dibangun di atas kejujuran.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Dan Rasulullah Saw, bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad)
Para sahabat pun demikian. Semakin tinggi kedudukan mereka, semakin besar rasa takut mereka kepada Allah. Jabatan dipandang sebagai amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri.
Lalu mari kita melihat diri kita hari ini.
Mengapa harta begitu mudah mengalahkan hati? Mengapa amanah begitu mudah diperdagangkan? Mengapa jabatan yang seharusnya menjadi jalan pengabdian justru sering berubah menjadi jalan memperkaya diri?
Ya Allah… betapa kontras teladan Rasulullah Saw, dengan keadaan kami hari ini.
Betapa malunya kami jika membayangkan keadaan kami hari ini, dibandingkan dengan perjuangan yang telah engkau lakukan Ya Rosulullah. Engkau menanamkan amanah, tetapi kami masih gemar berkhianat. Engkau mengajarkan kejujuran, tetapi kami masih mencari celah untuk mengambil yang bukan hak kami. Engkau membangun peradaban di atas akhlak, sementara kami sering meruntuhkannya karena terlalu mencintai dunia.
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
Ya Allah… hari ini kami tidak pantas mengaku sebagai orang-orang yang baik. Jangan biarkan kami merasa lebih suci daripada orang lain. Jangan jadikan kami pandai menilai kesalahan orang lain, tetapi lalai mengawasi diri sendiri. Jika Engkau tidak menjaga hati kami, bisa jadi kami pun terjatuh pada dosa yang sama ketika diberi kesempatan.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8)
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah kedua :
الحمد لله رب العالمين، حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
اللَّهُمَّ آتِنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةٍ وَسَطًا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
