KHUTBAH JUM’AT
3 juli 2026
Tema :
Mengapa Allah Menjadikan Umat Ini sebagai Umatan Wasathan?
Sebuah Refleksi Qur’ani tentang Hakikat, Tujuan, dan Tanggung Jawab Umat Islam
Oleh: Kh. Munawir S.H, M.Pd
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
“”Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Pada kesempatan yang mulia ini, saya ingin mengajak kita semua merenungkan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar.
Mengapa Allah menjadikan umat ini sebagai umatan wasathan?
Allah SWT berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang wasath agar kamu menjadi saksi atas manusia dan Rasul menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)
“Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Perhatikanlah ayat ini.
Allah tidak berfirman, “Jadilah kalian umat yang wasath.”
Tetapi Allah berfirman, “Kami telah menjadikan kalian umat yang wasath.”
Artinya, umatan wasathan adalah identitas yang Allah berikan kepada umat Islam sekaligus amanah yang harus diwujudkan dalam kehidupan.
Lalu, apakah makna wasath?
Para ulama menjelaskan bahwa wasath bukan sekadar berarti “tengah”. Tetapi juga Wasath berarti adil, seimbang, proporsional, dan pilihan. Yaitu kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai petunjuk Allah.
Karena itu, menjadi umatan wasathan bukan berarti berada di tengah dalam setiap perbedaan, tetapi berdiri di atas kebenaran dengan sikap yang adil, bijaksana, dan penuh hikmah.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Kemudian muncul pertanyaan kedua.
Mengapa Allah menjadikan kita sebagai umatan wasathan?
Allah sendiri menjawabnya dalam ayat yang sama:
لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
“Agar kalian menjadi saksi bagi manusia.
“Artinya, kehidupan seorang muslim harus menjadi bukti nyata bahwa ajaran Islam mampu melahirkan manusia yang jujur, adil, amanah, penuh kasih sayang, dan membawa kemaslahatan.
Orang lain mengenal Islam bukan hanya dari ceramah kita, tetapi dari akhlak kita.
Bukan hanya dari ucapan kita, tetapi dari kehidupan kita.
“Inilah makna menjadi saksi bagi manusia.
” Namun,
Ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama.
“”Jika Allah telah menjadikan kita sebagai umatan wasathan, mengapa perselisihan, perpecahan, saling menghina, dan saling menyalahkan masih sering terjadi di tengah umat Islam?
Apakah ajaran Islam yang kurang sempurna?
Tentu tidak.
Al-Qur’an adalah petunjuk yang sempurna.
Persoalannya bukan pada ajaran Islam, tetapi pada diri kita yang belum sepenuhnya menghidupkan nilai-nilai wasathiyah.
“Kita memiliki ilmu, tetapi belum sepenuhnya betul betul memiliki hikmah.
Padahal Allah berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Apa itu Hukamh?
” Hikmah adalah kemampuan menempatkan ilmu, sikap, ucapan, dan tindakan pada tempat yang semestinya sesuai petunjuk Allah.
Karena itu, alur yang diajarkan Al-Qur’an sangat jelas.
Wahyu melahirkan ilmu.
Ilmu melahirkan hikmah.
Hikmah melahirkan karakter wasath.
Dan karakter wasath melahirkan masyarakat yang damai, adil, dan berkeadaban.
” Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Lalu bagaimana kita menghidupkan nilai umatan wasathan?
Mulailah dari diri dan lingkungan terdekat kita.
Di dalam keluarga, jadilah suami, istri, dan orang tua yang adil, penuh kasih sayang, dan bertanggung jawab.
Dalam mendidik anak, jangan hanya mewariskan ilmu, tetapi juga hikmah dan akhlak.
Di tempat kerja, jadilah pribadi yang jujur, amanah, dan profesional.
Dalam bermasyarakat, jadilah penyejuk ketika terjadi perbedaan, bukan orang yang menambah perpecahan.
” Karena menjadi umatan wasathan bukan hanya tentang apa yang kita yakini, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai Islam hadir dalam sikap dan perilaku kita.
” Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Marilah kita pulang dari masjid ini dengan membawa satu tekad.
Jangan hanya bangga menjadi bagian dari umat Islam.
“Tetapi berusahalah menjadi bukti hidup bahwa Islam adalah agama yang membawa keadilan, keseimbangan, hikmah, dan rahmat bagi seluruh manusia.
” Semoga Allah SWT menjadikan kita benar-benar termasuk umatan wasathan, umat yang mampu menjadi teladan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan seluruh umat manusia.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah kedua :
الحمد لله رب العالمين، حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
اللَّهُمَّ آتِنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةٍ وَسَطًا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
