file_00000000fa9871fa9873168ba132dcdd
Share :

KHUTBAH JUM’AT
17 Juli 2026
Tema :
Judi Online: Cermin Krisis Karakter dan Pentingnya Membangun Mental Qana’ah
Oleh : KH. Munawir S.H, M.Pd
Ketua MWCNU Gunung Sindur

الحمد لله، الحمد لله الذي أمرنا بالحلال ونهانا عن الحرام، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإن تقوى الله خير زاد ليوم المعاد.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…

Beberapa hari terakhir masyarakat kita,  dikejutkan oleh pemberitaan mengenai tingginya jumlah pemain judi online. Terlepas dari berbagai data dan angka yang beredar, ada satu hal yang patut menjadi keprihatinan kita bersama, yaitu bahwa fenomena ini mengingatkan kita akan bahaya judi beserta dampak buruknya terhadap kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Namun sesungguhnya, judi bukanlah fenomena baru.
Jauh sebelum hadirnya internet, telepon genggam, bahkan lebih dari empat belas abad yang lalu, masyarakat Arab Jahiliyah telah mengenal dan menjadikan judi sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Akibatnya, banyak harta yang habis, persaudaraan dan persahabatan yang retak, permusuhan yang muncul, dan kehidupan masyarakat menjadi rusak.Karena itulah Allah SWT menurunkan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah semuanya itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Mā’idah: 90).

Jamaah Jumat rahimakumullah…
Mengapa Allah memerintahkan kita menjauhi judi?

Karena judi bukan hanya menghabiskan harta, tetapi juga merusak akhlak, menghancurkan keluarga, memutus persahabatan dan persaudaraan, dan menjauhkan manusia dari jalan yang diridhai-Nya.

Yang menjadi renungan kita bersama hari ini adalah bahwa fenomena ini justru terjadi di tengah masyarakat yang dikenal religius.
Lalu mengapa praktik judi masih dapat tumbuh di tengah masyarakat yang religius?

Baca Juga :  MAKNA PENTING MUHARRAM DAN TIGA PESAN DI DALAMNYA

Di pastikan Persoalannya bukan karena agama tidak mengajarkan kebaikan. ‘”Persoalannya juga bukan karena masyarakat tidak mengenal ajaran agama. Akan tetapi, boleh jadi kita sedang menghadapi krisis karakter. Yaitu Dimana nilai-nilai agama belum sepenuhnya terinternalisasi dan diwujudkan dalam karakter serta perilaku sehari-hari .

Akibatnya, ibadah seakan kehilangan daya transformasinya. Tidak tampak korelasi antara sujud yang khusyuk dengan keberanian meninggalkan praktik perjudian. Lisan melantunkan ayat-ayat Allah, tetapi tangan masih tergoda mencari keuntungan melalui jalan yang diharamkan.

Akhirnya, agama berhenti pada tataran ritual dan belum sepenuhnya membentuk karakter yang jujur, sabar, qana’ah, serta ridha terhadap rezeki yang halal. Padahal, hakikat ibadah adalah melahirkan ketakwaan yang tercermin dalam setiap pilihan hidup, termasuk keberanian menolak segala bentuk perjudian dan segala bentuk penghasilan yang diharamkan Allah SWT.

Ketika hawa nafsu lebih kuat daripada ketakwaan, jalan pintas lebih menarik daripada proses yang halal, dan keuntungan sesaat lebih dicari daripada keberkahan hidup.
Inilah penyakit manusia sepanjang zaman.

Dahulu bentuknya judi tradisional.
Hari ini bentuknya judi online.
Yang berubah hanyalah medianya, tetapi penyakit hatinya tetap sama.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Dari fenomena diatas. Ada tiga hal yang perlu kita renungkan.

Pertama :  ketika hawa nafsu tidak lagi dikendalikan oleh iman, seseorang mulai berani melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah.

Kedua : Budaya Instan.
Sesungguhnya Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi kaya. Bahkan, banyak sahabat Rasulullah Saw. yang merupakan saudagar sukses dan memiliki kekayaan yang melimpah, seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Namun, Islam mengajarkan bahwa kekayaan harus diraih dengan cara yang halal, jujur, penuh ikhtiar, serta diridhai Allah SWT. Kekayaan tidak boleh diperoleh dengan cara cara yang bathil, seperti Perjudian, penipuan, korupsi, ataupun bentuk usaha yang merugikan orang lain
Karena itu, Islam menanamkan satu prinsip penting: tidak ada kekayaan yang lahir tanpa proses

Baca Juga :  JEBAKAN HALUS IBLIS: UNTUK MENGGAGALKAN MISI MANUSIA

Ketiga :  keberkahan hidup mulai tergeser oleh keinginan mengejar keuntungan sesaat. Padahal tidak setiap keuntungan membawa keberkahan, tetapi setiap keberkahan pasti menghadirkan ketenangan.

Jamaah Jumat rahimakumullah…
Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam bukan hanya larangan, tetapi juga pembentukan karakter.
Islam mengajarkan kita membangun mental qana’ah.
Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha.
Qana’ah adalah merasa cukup terhadap apa yang Allah anugerahkan, sambil terus berikhtiar dengan cara yang halal.

  • bersabar dalam prosesnya,
  • bertawakal terhadap hasilnya,
  • dan mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan.
    Rasulullah Saw bersabda:
    لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Inilah karakter seorang mukmin.
Ia tidak mudah tergoda oleh jalan yang haram.
Ia tidak mengukur keberhasilan dari banyaknya harta semata.
Ia lebih mengutamakan keberkahan daripada keuntungan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Marilah kita jadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, dan memperkuat pendidikan karakter di rumah-rumah kita.

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Taḥrīm: 6).

Menjaga keluarga bukan hanya dengan memberi nafkah, tetapi juga dengan mengajarkan mereka mencari rezeki yang halal, membiasakan hidup sederhana, menanamkan rasa syukur, membangun mental qana’ah, dan menjauhkan mereka dari segala bentuk jalan pintas yang diharamkan Allah.

Semoga Allah SWT .menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur, memiliki hati yang qana’ah, istiqamah dalam mencari rezeki yang halal, serta menjaga diri dan keluarga kita dari segala bentuk kemaksiatan.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Baca Juga :  Manusia Sebagai Pohon Kehidupan: Refleksi Surah Ibrahim Ayat 24–25 tentang Manusia Ideal Menurut Al-Qur'an

Khutbah kedua :
الحمد لله رب العالمين، حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه كما يحب ربنا ويرضى، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

اللَّهُمَّ آتِنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةٍ وَسَطًا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Penulis