
KHUTBAH JUM’AT
12 Juni 2026
Tema:
MANUSIA SEBAGAI POHON KEHIDUPAN
Refleksi Surah Ibrahim Ayat 24–25
Oleh: KH Munawir S.H,M.Pd
Ketua MWCNU Kecamatan Gunung Sindur
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد،
فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita renungkan firman Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 24–25:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka mengambil pelajaran.”
Sesungguhnya dalam Surah Ibrahim ayat 24–25, Allah sedang menggambarkan sosok manusia ideal.
Manusia yang:
أَصْلُهَا ثَابِتٌ
memiliki fondasi aqidah yang kokoh.
وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
memiliki kapasitas, wawasan, dan visi yang tinggi.
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ
menghadirkan kemanfaatan dan kemaslahatan secara berkelanjutan.
Dengan kata lain:
Manusia ideal menurut Al-Qur’an adalah manusia yang kokoh keyakinannya, unggul kapasitasnya, dan luas kemanfaatannya.
Namun pertanyaannya:
Jika Allah sudah menjelaskan manusia ideal dengan begitu jelas, mengapa kita masih sulit menjadi manusia ideal?
Mengapa:
- banyak yang beragama tetapi belum menghadirkan perubahan?
- banyak yang berilmu tetapi belum menjadi solusi?
- banyak yang beribadah tetapi belum menjadi rahmat bagi lingkungannya?
Jawabannya: Krisis Paradigma
Kemungkinan besar bukan karena kita tidak memiliki kemampuan.
Bukan karena kita tidak memiliki kesempatan.
Tetapi karena:
cara pandang kita tentang manusia ideal masih keliru.
Kita sering mengukur manusia ideal dengan ukuran yang berbeda dari ukuran Al-Qur’an.
- Paradigma Sukses yang Keliru:
Kita mengajarkan kepada anak-anak:
Jadilah orang kaya.
Jadilah orang sukses.
Jadilah pejabat.
Jadilah orang terkenal.
Tidak salah.
Tetapi itu baru cabang.
Belum tentu buah.
Belum tentu kemaslahatan.
Al-Qur’an tidak mengukur manusia dari posisi yang dicapai.
Al-Qur’an mengukur manusia dari manfaat yang diberikan. - Paradigma Kesalehan yang Terlalu Sempit
Kita sering memahami kesalehan sebagai:
rajin shalat,
rajin puasa,
rajin zikir.
Semua itu benar.
Tetapi Al-Qur’an menghendaki sesuatu yang lebih luas.
Kesalehan yang melahirkan perbaikan.
Kesalehan yang melahirkan keadilan.
Kesalehan yang melahirkan kemanfaatan. - Paradigma Ilmu yang Keliru:
Hari ini ilmu sering dipandang sebagai:
alat mencari nafkah,
alat mendapatkan pekerjaan,
alat meraih jabatan.
Padahal itu hanyalah manfaat sampingan.
Tujuan hakiki ilmu adalah:
membangun manusia,
memperbaiki masyarakat,
menghadirkan kemaslahatan,
dan membangun kehidupan yang diridhai Allah.
Kesimpulan :
“”Kesulitan terbesar kita untuk menjadi manusia ideal bukan karena kurangnya ilmu, kurangnya ibadah, atau kurangnya potensi. Kesulitan terbesar kita adalah karena masih menggunakan paradigma yang keliru tentang manusia ideal itu sendiri”
“Selama kita menganggap manusia ideal adalah manusia yang paling kaya, paling tinggi jabatannya, atau paling banyak gelarnya, maka kita akan terus mengejar batang dan cabang. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia ideal adalah manusia yang akarnya kokoh dan buahnya memberi kehidupan bagi sesama
بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ وَبَارَكَ لَكُمْ
…….
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله.
أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات.
اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا، وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى…
فاذكروا الله يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر





